Tata Nilai

Tata Nilai Perawat

 Definisi Tata Nilai

Nilai memberikan hidup dan identitas kepada individu , profesi dan masyarakat. Perawat setiap hari ditantang dalam hubungan dan pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh nilai tersebut. Praktisi keperawatan mencari dan menghadapi tantangan tersebut dengan perspektif yang jelas dan tindakan terarah.

Tiga orang penulis mengenai nilai (Kluckhohn, 1951; Maslow, 1959; Rokeach, 1973) menyatakan bahwa nilai adalah keyakinan personal mengenai harga atas suatu ide, tingkah laku, kebiasaan atau objek yang menyusun suatu standar yang mempengaruhi tingkah laku. Tata nilai perawat adalah aturan-aturan yang membatasi peran, perilaku, dan etika seorang perawat. Sebagai seorang perawat harus mentaati dan mengembangkan nilai-nilai yang telah berlaku. Pemahaman akan nilai sangat dibutuhkan dalam proses memberikan asuhan keperawatan karena nilai adalah dasar bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan dan tindakan itu menjadi suatu standar untuk melakukan tindakan-tindakan selanjutnya. Jika seseorang memiliki nilai tertentu, maka ia secara pribadi dipilih, ditafsirkan, dibenarkan, dan diutamakan lebih tinggi dari yang lain.

Uustal (1992) merangkum elemen umum dalam definisi nilai. Pemilaian memiliki penilaian kognitif, selekif, afektif, dan tindakan. Seseorang berpikir, memilih, merasa dan bertindak berdasarkan kepentingan nilai pribadi. Nilai individu merefleksikan kebutuhan personal, budaya dan pengaruh sosial, serta hubungan dengan orang tertenru. Nilai-nilai berhubungan satu sama lain serta membentuk sistem nilai.

Nilai dapat dipelajari melalui observasi, pertimbangan dan pengalaman (Hamilton, 1992). Seorang individu akan mengobservasi tingkah laku dalam lingkungan tertentu dan mencatat respons yang dihasilkan. Tingkah laku yang berhasil atau produktif kemudian akan dapat diadopsi sebagai panduan untuk melakukannya. Nilai dipelajari dan dikembangkan seumur hidup. Nilai menjadi bagian dari sosialisasi individu. Ketika anak-anak mengamati orangtua, keluarga dan teman, mereka menerima tingkah laku yang akan membentuk dasar sistem nilai mereka.

Pembentukan kejujuran merupakan salah satu contohnya. Jika ketika ujian seorang anak melihat teman-teman di lingkungannya belajar dengan tekun, rajin dan ketika ujian jujur, maka secara tidak langsung anak tersebut akan rajin, tekun dan jujur. Namun sebaliknya, jika teman-teman di lingkungannya malas belajar, tidak jujur saat ujian. Maka, anak tersebut pun akan mengikuti apa yang di lakukan oleh teman-temannya.

Tata nilai yang harus dimiliki seorang perawat adalah:

  1. Care
  2. Empathy (Empati)
  3. Altruism (Altruisme)

 

Iklan

CARING

caring

Caring Dalam Keperawatan

Caring dapat diartikan sebagai suatu bentuk kepedulian bagi orang lain. Secara umum dapat diartikan sebagai suatu kemampuan untuk berdedikasi bagi orang lain, pengawasan dengan waspada, menunjukan perhatian, perasaan empati pada orang lain dan perasaan cinta atau menyayangi yang merupakan kehendak keperawatan ( Potter & Pery, 2005 ). Selain itu, caring dapat mempengaruhi cara berpikir, perasaan, dan perbuatan seseorang.

Caring adalah suatu tindakan yang dilakukan untuk memberikan dukungan kepada induvidu secara utuh. Perilaku caring seharusnya diajarkan kepada manusia sejak lahir, masa perkembangan, masa pertumbuhan, masa pertahanan sampai dengan meninggal. Caring adalah esensi dari keperawatan yang membedakan dengan profesi yang lain dan mendominasi serta mempersatukan tindakan-tindakan keperawatan. (Watson, 2002 dalam Dwidiyanti, 2007).

Perilaku caring merupakan suatu sikap, rasa peduli, hormat, dan menghargai orang lain, artinya memberikan perhatian yang lebih kepada seseorang dan bagaimana seseorang itu bertindak karena perilaku caring merupakan perpaduan perilaku manusia yang berguna dalam peningkatan derajat kesehatan dalam membantu pasien yang sakit. Perilaku caring sangat penting untuk mengembangkan, memperbaiki, dan meningkatkan kondisi atau cara hidup manusia. Perilaku caring sangat penting dalam layanan keperawatan karena akan memberikan kepuasan pada klien dan perawat akan lebih memahami konsep caring dan mengaplikasikannya dalam pelayanan keperawatan. Seorang perawat memerlukan kemampuan untuk memperhatikan orang lain, keterampilan intelektual, teknikal, dan interpersonal yang tercermin dalam perilaku caring atau kasih sayang. (Dwidiyanti, 2007)

Caring dalam keperawatan adalah fenomena transkultural di mana perawat berinteraksi dengan klien, staf, dan kelompok lain. Perilaku caring bertujuan dan berfungsi untuk mengubah struktur sosial, pandangan hidup, dan nilai kultur setiap orang yang berbeda pada suatu tempat dengan tempat yang lain. Dalam merawat diri sendiri dan orang lain, praktik caring berbeda bergantung pada setiap kultur dan etik serta pada sistem profesional care-nya. (Leininger, 1991).

Saat seseorang memilih menjadi seorang perawat, maka ia telah berkomitmen moral untuk melayani semua pasien (Lachman, 2012). Sebagai ideal moral keperawatan, caring bukan hanya sekedar ekspresi emosi, kepedulian, sikap, ataupun hasrat untuk menolong, tetapi juga melibatkan nilai-nilai, kesediaan, dan komitmen untuk melayani, mengembangkan ilmu, berperilaku caring, dan menerima berbagai konsekuensi terkait dengan upaya menghormati martabat manusia (human dignity) (Gadow, 1984, dalam Watson, 2012).

International Council of Nurses (ICN) (2014) menegaskan bahwa perawat memiliki tanggung jawab profesional untuk melaksanakan berbagai peran, baik yang bersifat motonom maupun kolaboratif. Dalam melaksanakan peran-peran tersebut, caring merupakan suatu unsur yang melekat pada tiap peran yang menunjukan identitas profesional perawat (Cook, Gilmer, & Bess, 2003, dalam Finkelman & Kenner, 2013).

Dalam caring, perawat dan klien masuk dalam suatu hubungan yang tidak hanya sekedar seseorang melakukan tugas untuk yang lainnya. Ada hubungan memberi dan menerima yang terbentuk sebagai awal dari saling mengengal dan peduli antara perawat dan klien.

Teori caring Swanson (1991) menerangkan permulaan yang baik untuk memahami proses karakteristik keperawatan dan kebiasaannya. Mengenali kebiasaan perawat yang dirasakan klien sebagai caring menegaskan bahwa yang diharapkan klien pada praktik keperawatan adalah pelayanan tersebut. Klien kemudian menilai efektivitas perawat dalam melaksanakan tugasnya, tetapi klien menilai pengaruh dimensi pelayanan keperawatan (Williams, 1997). Sikap layanan keperawatan yang dinilai klien yaitu mengenali individu sebagai suatu yang unik, menjadikan kehadiran yang menentramkan, dan menjaga kebersamaan dan perhatian yang penuh pada klien.

Oleh karena itu, perawat yang tidak dapat melaksanakan praktik dalam konteks caring akan menjadi perawat yang kaku, kurang peka, seperti robot, merasa ketakutan, dan mudah lelah (Swanson, 1999, dalm Watson & Foster, 2003).

Sikap keperawatan yang berhubungan dengan caring, yaitu :

  1. Kehadiran, merupakan pertemuan antara seseorang dengan orang lain yang bertujuan untuk mendekatkan dan menyampaikan sikap caring. Melalui kehadiran, kontak mata, bahasa tubuh, nada suara, mendengarkan serta memiliki sikap positif yang dilakukan oleh seorang perawat. Melalui pertemuan dengan klien, perawat dapat meningkatkan kemampuannya dengan belajar dari klien. Hal ini memperkuat kemampuan perawat untuk menyelenggarakan pelayanan keperawatan yang sesuai dan adekuat.
  2. Sentuhan, dilakukan saat klien menghadapi situasi yang memalukan, menakutkan, atau menyakitkan, maka klien akan melihat perawta untuk mendapatkan bantuan. Menggunakan sentuhan merupakan salah satu cara pendekatan yang menenangkan di mana perawat dapat mendekatkan diri dengan klien untuk memberikan perhatian dan dukungan. Sentuhan caring adalah bentuk komunikasi non verbal yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan klien, meningkatkan harga diri, dan memperbaiki orientasi tentang kenyataan (Boyek dan Watson, 1994). Perawat dapat mengungkapkan jenis sentuhan ini dengan memegang tangan klien, memeberikan pijatan pada punggung, menempatkan klien dengan hati-hati, atau ikut serta dalam pembicaraan. Saat menggunakan sentuhan caring, perawat membuat hubungan dengan klien dan menunjukan penerimaan (Tommasini, 1990).
  3. Mendengarkan, merupakan kunci, karena hal ini menunjukan perhatian penuh dan ketertarikan perawat pada topik yang dibicarakan klien. Dengan aktif mendengarkan, perawat mulai memahami klien dan mengetahui apa yang penting menurut mereka (Bernick, 2004). Mendengarkan juga berguna untuk mendaparkan informasi dan memperkuat hubungan perawat dan klien.
  4. Memahami Klien, konsep pemahaman diri terhadap klien ini dilakukan oleh Swanson (1991), dalam konsep pemahaman diri terhadap klien terdiri atas pemahan perawat terhadap klien dan pemilihan intervensi berikutnya (Radwin, 1995). Pemahan yang mendalam membantu perawat dalam merespon apa yang menjadai persoalana klien (Bulfin, 2005).
  5. Pemahaman klien adalah gerbang pelayanan dan proses sosial yang menghasilkan suatu ikatan di mana klien menjadi lebih mengenal perawat (Lamb dan Stempel, 1994). Ikatan tersebut selanjutnya membagi tingkatan sehingga perawat dapat membantu klien terlibat dalam pelayanan dan menerima bantuan saat diperlukan (Bulfin, 2005).

Rentan perilaku Caring di atas memiliki relevansi dalam hubungan perawat-pasien dan memberikan tuntutan bagaimana menghadirkan atau mempresentasikan diri dalam peristiwa caring (caring occasion)dan mengembangkan budaya caring (Watson, 2012). Merujuk pada rentang perilaku caring, yang termasuk ke dalam uncaring behaviors, yaitu :

1. Biocidic : perilaku ini bersifat menghancurkan nilai-nilai kehidupan, sehinggga menggiring kepada kemarahan, keputusasaan, dan penurunan kesejahteraan. Contohnya, melakukan kekerasan secara verbal pada pasien (perawat judes) selalu terllihat tergesa-gesa dan kasar dalam melayani pasien.

2. Biostatic : perilaku ini menghambat perkembangan nilai-nilai kehidupan dengan menampilkan perilaku ini pasien akan menganggap perawat dingin dan apapun tindakan yang dilakukan perawat berkesan mengganggu kenyamanan pasien. Contohnya, tgidak menyapa pasien atau tidak memperkenalkan diri pada saat kontak dengan pasien.

3. Biopassive : perilaku ini sebenarnya bersifat biasa-biasa saja tetapi perawat cenderung berperilaku apatis dan membuat jarak dengan pasien (just doing the job : hanya sekedar melakukan pekerjaannya). Tetapi bagaimanapun, perawat adalah manusia biasa yang seringkali pada suatu waktu menampilkan perilaku yang bersifat biopassive.

Sedangkan perilaku-perilaku yang tergolong ke dalam caring behaviors bersifat.

1. Bioactive : perilaku yang bersifat memilihara nilai-nilai kehidupan sebagai cerminan dari hubungan perawat-pasien yang baik, penuh kepedulian, mengutamakan kepentingan pasien, dan peka.

2. Biogenic : merupakan level tertinggi dari human-to-human caring. Perilaku yang termasuk ke dalam golongan ini bersifat respirokal (saling memberi dan menerima nilai-nilai kehidupan). Dalam hal ini, perawat dan pasien sama-sama mendapatkan keuntungan atau manfaat bagi kehidupan masing-masing. Untuk mencapai tingkatan ini diperlukan keterbukaan, ketulusan, kepekaan terhadap perlunya menghargai-dihargai, kepedulian, dan martabat, sehingga tumbuh hubungan saling percaya.

Caring terjadi setiap kali perawat melakukan kontak dengan pasien dan dapat diamati melalui perilaku-perilaku perawat pada saat melayani pasien (Watson, 1985, dalam Udomluck, Tonmukayakul, Tiansawad, & Srisuphan, 2010). Perilaku caring dapat ditunjukan dalam beragam tindakan, pemikiran, bahasa tubuh, perasaan, intuisi, penampilan, pemberian, informasi, sentuhan, dan lain sebagainya (Udomluck etg all, 2010). Perilaku caring juga dapat dipengaruhi oleh persepsi perawat dan pasien (Salimi & Azimpour, 2013).

Secara global, penelitian terhadap perilaku caring dalam keperawatan berkembang cukup pesat (Porter et al, 2014). Sebuah studi di Iran menemukan kolerasi positif antara caring dengan kepuasan pasien (Azizi-Fini et al, 2012). Sedangkan studi lain di Saudi Arabia menemukan bahwa terdapat diskrepansi (perbedaan) signikan antara persepsi terhadap caring yang paling penting dengan perilaku caring yang paling sering ditunjukan oleh perawat (Suliman, Welman, Omer, & Thomas, 2009).

Porter et al (2014) melakukan penelitian untuk menggambarkan persepsi perawat terhadap perilaku caringnya sendiri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua perawat menunjukan persepsi yang positif terhadap beberapa area perilaku yang diukur menjamin kehadiran bagi pasien, pengetahuan, dan keterampilan, menghormati orang lain, dan keterikatan yang positif.

Sementara itu, Udomlock et al, (2010) juga mengembangkan alat ukur untuk mengevaluasi perilaku caring perawat di Thailand. Beberapa indikator perilaku caring yang diindentifikasi dari penelitian ini adalah : komunikasi efektif, sikap menghargai, dukungan, ‘ada’ bersama pasien, bertindak untuk membantu pasien, serta menggunakan pengetahuan dan keterampilan profesional.

Masih banyak lagi penelitian-penelitian lainnya yang berfokus pada perilaku caring dalam keperawatan. Dalam uraian di atas sudah dijelaskan secara ringkas beberapa temuan dapat memberikan informasi terkait dengan perilaku caring dalam keperawatan.

 

 

 

 

 

 

EMPHATY

empati

Bagaimana Tata Nilai Emphaty Dalam diri Seorang Perawat ?

a. Pengertian

Menurut Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence (1997), istilah empati kali berasal dari bahasa Yunani empateia, yang berart “ikut-merasakan”. Istilah ini pada awalnya digunakan oleh para teoritikus estetika untuk menjelaskan tentang kemampuan memahami pengalama subyektif orang lain. Pada tahun 1920-an istilah empati ini dikenalkan kembali dalam bahasa inggris oleh E.B Tichener, seorang ahli psikologi Amerika, dengan makna yang sedikit berbeda. Pada teori Tichener dikatakan, bahwa empati berasal dari semacam peniruan secara fisik atas beban orang lain, yang kemudian menimbulkan perasaan yang serupa dalam diri seseorang. Ia mencoba menggunakan kata empati untuk membedakan dengan kata simpati yang maknanya lebih dekat dengan perhatian terhadap kemalangan lumrah orang lain tanpa ikut merasakan apapun yang dirasakan oleh orang tersebut.

Menurut abu ahmadi (1992), empati merupakan suatu kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan orang lain andaikata kita dalam situasi orang lain tersebut, karena empati orang menggunakan perasaanya dengan afektif didalam situasi orang lain.

Lebih lanjut Daniel Goleman (1997:136) mengatakan bahwa empati merupakan kemampuan untuk mengetahui perasaan orang lain. Empati merupakan akar kepedulian dan kasih sayng dalam setiap hubungan emosional seseorang dalam upayanya untuk menyesuaikan emosionalnya dengan emosional dengan emosional orang lain. Menurutnya kunci untuk memahami perasaan orang lain adalah mampu membaca pesan non verbal seperti nada bicara , gerak-gerik, ekspresi wajah, dan sebagainya.

Empati merupakan persepsi perawat terhadap tujuan dan perasaan klien serta proses penyampaian pemahama kepada klien. Mampu menempatkan diri pada posisi klien tidak berarti perawat memiliki pengalaman yang sama dengan klien. Akan tetapi, dengan mendengarkan dan merasakan pentingnya situasi tersebut bagi klien, perawat dapat menyelami perasaan klien tentang pengalamanya.

Menurut Kamus Besar Berbahas Indonesia, empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Taylor mengatakan bahwa empati merupakan faktor esensial untuk membangun hubungan yang saling mempercayai. Ia memandang empati sebagai usaha menyelam ke dalam perasaan itu. Empati memberikan sumbangan guna terciptanya hubungan yang saling mempercayai karena empati mengkomunikasikan sikap penerimaan dan pengertian terhadap perasaan orang lain secara tepat.

Sedangkan Alfred Adler menyebut empati sebagai penerimaan terhadap perasaan orang lain dan meletakkan diri kita pada tempat orang itu. Emphaty berarti to feel in, berdiri sebentar pada sepatu orang lain untuk merasakan betapa dalamnya perasaan itu.

b. Perawat Empatik

Sebagai “perawat empatik” harus berusaha keras untuk mengetahui secara pasti apa yang sedang dipikirkan dan dialami klien. Pada kondisi seperti ini, empati dapat diekspresikan melalui berbagai cara yang dapat dipakai ketika dibutuhkan, mengatakan sesuatu tentang apa yang perawat pikirkan tentang klien, dan memperlihatkan kesadaran tentang apa yang saat ini sedang dialami pasien. Perawat yang berempati dengan orang lain dapat menghindarkan penilaian berdasarkan kata hati tentang seseorang dan pada umumnya dengan empati dia akan menjadi lebih sensitif dan ikhlas.

Wheeler dan Wolberg yang dikutip oleh Struat Sundeen (1998) membagi empati dalam 2 tipe, yaitu :

  1. Empati Dasar (Basic Empathy)

Merupakan respon alamiah dari seseoarang untuk mengerti orang lain. Contoh empati dasar misalnya ketika ada seorang teman yang curhat kepada si A dan si A langsung menjawab spontan, “Kenapa ?, Bagaimana bisa seperti itu ?” dan kemudian memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan teman si A tersebut.

  1. Empati Terlatih (Trained Emphaty)

Kemampuan berempati yang diperoleh melalui training dalam rangka menolong orang lain. Seorang perawat yang telah belajar komunikasi terapeutik tentu mampu berempati secara tepat pada setiap keadaan kliennya. Misalnya ketika seorang pasien menceritakan keadaannya, perawat diam disampingnya mendengarkan keluhan tentang penyakit yang dideritanya dan kemudian memberikan pengetahuan tentang penyakitnya dan memberikan asuhan tentang penyakitnya tersebut.

c. Cara Meningkatkan Sikap Empati

Ada beberapa cara untuk meningkatkan empati karena empati terkadang tidak dapat langsung muncul dalam diri seorang perawat, sebagai berikut :

  1. Peduli, perhatian dari perawat kepada pasiennya yang akan membuat pasien nyaman karena diperhatikan.
  2. Berlatih, latihan merupakan proses pembentukan sikap empati dengan rajin berlatih sikap tersebut akan tumbuh dan menjadi tebiasa bersikap empati bagi seorang perawat.
  3. Berbagi Pengalaman, pengalaman merupakan guru yang terbaik dan melalui pengalaman kita dapat menjadi bijaksana.

Dengan begitu, perawat dapat meningkatkan kemampuan berempatinya dan terbiasa dalam melakukan setiap asuhan keperawatan dengan sikap empati. Dan dengan kemampuan empati perawat mampu untuk menghayati perasaan klien.

ALTRUISM

 altruism

  • Altruism

Altruism adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memeperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri.

Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keingian untuk melakukan kebaikan tanpa memeperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu, seperti patriotisme, dsb.

Konsep ini telah ada sejak lama dalam sejarah pemikirna filsafat dan etika, dan akhir-akhir ini menjadi topik dalam psikologi (terutama psikologi evolusioner), sosiologi, biologi, dan etiologi. Gagasan altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak bagi bidang lain, tapi metoda dan pusat perhatian dari bidang-bidang ini menghasilkan prespektif-prespektif berbeda terhadap altruisme. Berbagai penelitian terhadap altruisme tercetusterutama saat pembunuhan Kitty Genovese tahun 1964, yang ditikam selama setengah jam, dengan beberapa saksi pasif yang menahan diri tidak menolongnya.

 

  • Definisi Altruism

Kata altruism muncul pada abad ke-19 oleh sosiologis Auguste Comte. Berasal dari kata Yunani “alteri” yang berarti orang lain. Menurut Comte, seseorang emiliki tanggung jawab moral untuk melayani umat manusia sepenuhnya. Sehingga altruism menjelaskan sebuah perhatian yang tidak mementingkan diri sendiri untuk kebutuhan orang lain. Jadi, ada tiga komponen dalam altruism, yaitu loving, others, helping them doing their time of need, dan making sure that they are appeciated.menurut Boston (2002) dalam (Carr, 2004) altruism adalah respon yang menimbulkan positive feeling, seperti empati.

Seseorang yang altruism memiliki motivasi altruistik, keinginan untuk selalu menolong orng lain. Motivasi altruistik tersebut muncul karena ada alasan internal di dalam dirinya yang menimbulkan positive feeling sehingga dapat memunculkan tindakan untuk menolong orang lain. Alasan internal tersebut tidak akan memunculkan egoistic motivation. Suatu tindakan altuistik adalah tindakan kasih yang dalam bahasa Yunani disebut agape. Agape adalah tindakan mengasihi atau memperlakukan orang sesama dengan baik semata-mata untuk tujuan kbaikan orang itu dan tanpa dirasuki oleh kepentingan orang yang mengasihi.maka tindakan altruism pastilah selalu bersifat konstruksi, membangun, memperkembangkan, dan mneumbuhkan kehidupan sesama.

Suatu tindakan altruistik tidak berhenti pada perbuatan itu sendiri, tetapi keberlanjutan tindakan itu sebagai produknya dan bukan sebagai kbergantungan. Istilah tersebut disebut moralitas altruistik, dimana tindakan menolong tidak sekedar mengandung kemurahan hatiatau belas kasihan, tetapi diresapi dan dijiwai oleh kesukaan memajukan sesama tanpa pamrih.

Dari hal tersebut, seseorang yang altruist dituntut untuk memiliki tanggung jawab dan pengorbanan yang tinggi. Tiga teori yang dapat menjelaskan tentang motivasi seseorang melakukan tingkah laku altruisme adlah sebagai berikut :

  1. Social exchange

Pada teori ini, tindakan menolong dapat dijelaskan dengan adanya pertukaran sosial timbal balik. Altruism menjelaskan bahwa imbalan yang memotivasi adalah inner-rewar (distress). Contohnya adalah kepuasan untuk menolong atau keadaan yang menyulitkan (rasa bersalah) untuk menolong.

  1. Social Norms

Alasan menolong orang lain salah satunya karena didasari oleh “sesuatu” yang mengatakan pada kita untuk “harus” menolong. “Sesuatu” tersebut adlah norma sosial. Pada altruisme, norma sosial tersebut dapat dijelaskan dengan adanya social reponsibillity. Adnya tanggungjawab sosial, dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan menolong karena dibutuhkan dan tanpa mengharapkan imbalan di masa yang akan datang.

  1. Evolutionary Psychology

Pada teori ini, dijelaskan bahwa pokok dari kehidupan adalah mempertahankan keturunan. Tingkah laku altruisme dapat muncul (dengan mudah) apabila “orang lain” yang akan disejahterakan merupakan orang yang sama (satu karakteristik). Contohnya : seseorang menolong orang yang sama persis dengan dirinya – keluarga, tetangga, dan sebagainya.

 

Dari penjelasan diatas, Myers (1996) menyimpulkan altruisme akan dengan mudah terjadi dengan adanya :

  1. Social Responsibility, seseorang merasa memiliki tanggung jawab sosial dengan yang terjadi disekitarnya.
  2. Distress – inner reward, kepuasan pribadi – tanpa ada faktor eksternal.
  3. Kin Selection, ada salah satu karakteristik dari korban yang hampir sama.
  • Karakteristik Altruisme

Selain hal tersebut, Myer (1996) menjelaskan karakteristik dari tingkah laku altruisme, antara lain adalah sebagai berikut :

  1. Emphaty, altruisme akan terjadi dengan adanya empati dalam diri seseorang. Seseorang yang paling altruis merasa bertanggungjawab, bersifat sosial, selalu menyesuaikan diri, toleran, dapat mengontrol diri, dan termotivasi membuat kesan yang baik.
  2. Belief on a just world, karakteristik dari tingkah laku altruisme adalah percaya pada “a just world”, maksudnya adalah orang yang altruis percaya bahwa dunia adalah tempat yang baik dan dapat diramalkan bahwa yang baik selalu mendapatkan “hadiah” dan yang buruk mendapatkan “hukuman”. Dengan kepercayaan tersebut, seseorang dapat dengan mudah menunjukan tingkah laku menolong (yang dapat dikategorikan sebagai yang baik).
  3. Social responsibility, setiap orang bertanggungjawab terhadap apapun yang dilakukan oleh orang lain, sehingga ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan, orang tersebut harus menolongnya.
  4. Internal LOC, karakteristik selanjutnya dari orang yang altruis adalah mengontrol dirinya secara internal. Berbagai hal yang dilakukannya dimotivasi oleh kontrol internal (misalnya kepuasan diri).
  5. Low egocentricm, seseorang yang altruism memiliki keegoisan yang rendah. Dia mementingkan kepentingan lain terlebih dahulu dibandingkan kepentingan dirinya.

 

Dalam buku “Posittive Pshycology” (Carr, 2004) dijelaskan ada tiga cara meningkatkan altruism, yaitu :

  1. Emphaty, tindakan altruisme dapat ditingkatkan dengan meningkatkan perasaan empati pada seseorang.
  2. Moral Affiliation, altruisme terjadi jika seseorang mengetahui pengertian dan hubungan atau keterkaitan moral dengan tindakan sanksi akibat perilaku menolong.
  3. Moral principle, dengan berdiskusi dan penjelasan tentang prinsip-prinsip moral, tindakan altruisme dapat ditingkatkan. Salah satu prinsip moral tersebut adalah diskusi untuk membuat dunia lebih baik.
  • Indikator Tingkah Laku Altruisme

Indikator tingkah laku altruisme adalah sebagai berikut :

  1. Empati, seseorang yang altruis merasakan perasaan yang sesuai dengan situasi yang terjadi pada orang lain.
  2. Interpretasi, seseorang yang altruis dapat menginterpretasikan dan sadar bahwa suatu situasi membutuhkan pertolongan.
  3. Social responsibility,seseorang yang altruis merasa bertanggung jawabterhadap situasi yang ada disekitarnya.
  4. Inisiatif, seseorang yang altruis memiliki inisiatif untuk melakukan tindakan menolong dengan cepat dan tepat.
  5. Rela berkorban, ada hal yang rela dikorbankan dari seseoarang yang atruis untuk melakukan tindakan menolong.
  • Faktor Pengaruh Altruisme

Menurut Wortman dkk. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam memberikan pertolongan kepada orang lain.

1. Suasana hati

Jika suasana hati sedang enak, orang juga akan terdorong untuk memberika pertolonganlebih banyak. Riset menunjukan bahwa menolong orang lain akan lebih disukai jika ganjarannya jelas. Bagaimana dengan suasana hati yang buruk ? Menurut penelitian Carlson & Miller, asalkan lingkungannya bauk, keinginan untuk menolong meningkat pada orang yang tidak bahagia.pada dasrnya orang yang tidak bahagia mencari cara untuk keluar dari keadaan itu, dan menolong orang lain merupakan pilihannya. Tapi pakar psikologi lain tidak meyakini peran suasana hati yang negatif itu dalam altruisme.

2. Empati

Menurut Daniel Batson, dengan empati pengalaman menempatkandiri pada keadaan emosi oarang lain seolah-olah mengalaminya sendiri empati inilah yang menurut Batson akan mendorong orang untuk melakukan pertolongan altruistis.

3. Meyakini Keadilan Dunia

Faktor lainyang mendorong terjadinya atruisme adalah keyakinan akan adanya keadilan di dunia, yaitu keyakinan bahwa dalam jangka panjang yang salah akan[ dihukum dan yang benar akan dapat ganjaran. Menurut teori Melvin Lerner, orang yang keyakinannya kuat terhadap keadilan dunia akan termotivasi untuk mencoba memperbaiki keadaan ketika mereka melihat orang yang tidak bersalah menderita. Tanpa pikir panjang mereka segera bertindak memberi pertolongan jika ada orang yang kemalangan.

4. Faktor Psikologis

Secara sepintas perilaku altruistis memberi kesan kontraproduktif, mengandung risiko tinggi termasuk terluka dan bahkan mati. Ketika orang yang ditolong bisa selamat, yang menolong mungkin malah tidak selamat. Perilaku seperti itu antara lain muncul karena ada proses adaptasi dengan lingkungan terdekat, dalam hal ini orangtua. Selain itu, meskipun minimal, adapula peran kontribusi unsur genetik.

5. Faktor Situasional

Apakah ada karakter tertentu yang membuat seseorang menjadi altruistis ? Belum ada penelitian yang membuktikannya. Yang lebih diyakini adalah bahwa seseorang menjadi penolong lebih sebagai produk lingkungan daripada faktor yang ada pada dirinya.

Faktor kepribadian tidak terbukti berkaitan dengan altruisme. Penelitian yang pernah ada menunjukan bahwa dalam memeberikan pertolongan ternyata tidak ada bedanya antara pelaku kriminal dan yang bukan. Maka disimpulkan bahwa faktor situasional turut mendorong seseorang untuk memberikan pertolongan kepada orang lain.

 

  • Altruisme Menurut Psikologi Tradisional

Terdapat pertanyaan “apakah kita sungguh-sungguh mampu berperilaku altruistik ?” menurut dua aliran teori tradisional psikologi, jawabannya adalah “tidak”. Dua aliran teori tersebut adalah Psikoanalisis dan Teori Belajar (behavorism). Berikut ini uraian Deaux dkk. (1993) mengenai hal tersebut.

1. Teori Psikoanalisis

Teori ini bersandar pada asumsi bahwa manusia pada dasarnya agresif dan selfish (egois) secara instingsif. Dengan demikian, beberapa tokoh psikoanalisis mamandang altruisme sebagai pertahanan diri terhadap kecemasan dan konflik internal diri kita sendiri. Hal ini menunjukan bahwa altruisme lebih bersifat self-serving (melayani diri sendiri), bukan dimotivai oleh kepedulian yang murni terhadap orang lain. Meskipun diakui bahwa pengalaman sosialisasi yang positif dapat membuat kita tidak terlalu selfish.

2. Teori Belajar

Khususnya tokoh-tokoh aliran psikologi belajar yang menekankan reinforcement seperti B.F Skinnerbernggapan bahwa kita cenderung mengulangi atau memperkuat perilaku yang memiliki konsekuensi positif bagi diri kita. Mengenai altruisme, mereka berpendapat, bahwa di balik perilaku yang tampaknya altruisme sesungguhnya adalah egoisme atau kepentingan diri sendiri.

Orang dapat merasa lebih baik setelah memberikan pertolongan, mengharapkan imbalan di akhirat, menghindari perasaan bersalah atau malu yang bisa mencul bila mereka tidak menolong. Pun bila seseorang tidak dapat mengharapkan hadiah, penghargaan, imbalan uang, dia mungkin dimotivasi oleh penghargaan yang lebih lunak.

 

  • Hipotesis Empati-Altruisme

Pandangan dari dua aliran psikologi di atas merupakan pandangan yang pesimistis mengenai kapasitas manusia untuk dapat bertindak altruistik. Di luar dua aliran psikologi tradisional tersebut, terdapat pandangan lain yang lebih optimistis dari beberapa tokoh psikologi sosial, yaitu Batson dkk.

Batson dkk, berdasarkan penelitian mengenai perilaku prososial, menemukan adanya hubungan erat antara perilaku menolong (prososial) dan empati. Artinya, orang yang empatinya lebih tinggi cenderung mudah menolong orang lain atau berperilaku prososial. Sebaliknya, orang yang empatinya lebih rendah, lebih sedikit kemungkinanya untuk menolong orang lain.